Kecewa yang melahirkan kebijaksanaan
Assalamualaikum...
Meletakkan kepercayaan kepada sahabat menurutku itu sangatlah harus, sebab mereka adalah orang terdekatmu setelah keluarga yang akan menolong dan membantu ketika kita dalam kesulitan di kala jauh dari keluarga.
Jalan,makan,tidur,bahkan kalau kebelet pipis mungkin akan sama sama masuk wcnya. Hubungan emosional kita dengan sahabat mungkin lebih kuat dari pada dengan saudara kita sendiri.
Sakitnya sahabat,sakit kita juga. Begitupun sebaliknya, sakit kita sakit sahabat juga. Susah,senang,sedih dan bahagia kita rasakan sama sama.
Kebenaran dan kebaikan yang kita lakukan akan di beri aplos oleh sahabat. Dan ketika kita berbuat kesahalan maka dengan spontan mereka akan menegur dan membimbingmu ke kebenaran.
Namun bagaimna jika sahabat yang selama ini sangat kita percaya dan kita sayangi menghakimimu sebab kesalahan yang kita lakukan, namum dalam penghakiman tersebut kau menangkap kemunafikan yang amat sangat dari mata sahabat mu?
Contohnya gini...
Kita buat kesalahan yang paling tidak di senangi oleh sahabat sahabatmu dan katanya mereka kecewa kepadamu, Namun kita melakukan itu ada alasan tertentu. Mereka kecewa karena satu kesalahanmu sampai melupakan seribu kebaikanmu.
Mereka menghakimi dan memojokkanmu dengan masukan masukan mereka yang secara tidak langsung menunjukkan kemunafikan mereka.
Menurutmu bagaimna menyikapi sikap mereka?
Apa kita harus tetap Sabar dengan kemunafikan mereka dan harus tetap berbuat baik kepada mereka dan melupakan perbuatan mereka tersebut terlebih kita sekamar kos dengan mereka. Mereka sangat senang melihat dan mencibir keburukan orang lain bahkan keburukan sahabat mereka sendiri. Namun lupa dengan keburukan yang mereka lakukan kepada orang lain.
Betul kata pepatah. Satu kesalahan menghapus seribu kebaikan. Apakah kita juga harus melupakan seribu kebaikan mereka? Lantas apa perbedaan kita jika harus melakukan hal yang sama?
Oklah....
mungkin karna doa yang kita pajatkan kepada Tuhan agar di jauhkan dari segala sesuatu yang membuat kita lalai dari perintah perinyahnya terkabulkan, sebab jika bersama dengan yang katanya itu sahabat kita serasa jauh dengan Tuhan. Tetapi apakah kita akan mendapat kebaikan karna menjauhi mereka dengan berlandaskan rasa kecewa? Apakah kita akan memuai bunga jika yang kita tanam adalah duri?
Memang sulit memberikan setangkai bunga kepada orang yang telah melempari kita dengan batu. Namun kalau mau diambil positifnya mungkin ini ujian kesabaran dari Tuhan untuk mengangkat derajat kita. Aamiin.
Tetaplah menjadi orang baik meski kita di perlakukan tidak baik,benci sikapnya jangan orangnya agar tali persaudaraan tidak putus. Ada sebuah hadist yang berbunyi "Rasulullah saw bersabda : barang siapa yang memutuskanku (silaturahmi) maka akan putus rahmat darinya, dan barang siapa yang menyambungku (silaturahmi) maka akan tersambung rahmat darinya." Kurang lebih seperti itu. Dan jangan ingat keburukan orang lain terhadap kita,tetapi ingatlah keburukan kita kepada orang lain agar kita tidak selalu merasa benar. Sebab dengan merasa bersalah kita tidak akan membuat kesalahan lain.
Semoga bermanfaat..😊Wassalamualikum.
Comments
Post a Comment